Langsung ke konten utama

[REVIEW] Teach a Lesson


Teach a Lesson mengisahkan beberapa permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan khususnya di negara korea. Kasus-kasus seperti bullying, penggunaan sosial media, tawuran, penggunaan dan peredaran obat-obat terlarang serta pembunuhan yang dilakukan remaja, dalam drama ini dibahas dan dikemas dengan sangat baik. 

Bahkan salah satu kasus dalam ini yang diangkat dari kisah nyata. Tiap kasus memiliki sentuhan emosional yang cukup mendalam. Penonton akan dibuat mengerti perasaan dari korban bullying, tekanan guru ketika mengajar dan perasaan ayah atau ibu yang mengetahui anaknya dibully dan bahkan dibunuh di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat budi pekerti dijunjung tinggi.

Dalam drama korea ini, ada beberapa nilai yang ditekankan. Pertama, peran orang dewasa sangat penting dalam mencegah adanya kasus-kasus bullying terutama orang tua dan guru. Kedua, guru harus dijamin keamanannya dari tindak kekerasan fisik maupun hukum, jangan sampai kasus guru dipenjara hanya karena menegur siswa atau menghukum siswa (tentu jika tidak melewati batasan). Ketiga, siswa adalah anak yang sedang belajar, mereka akan mencontoh orang dewasa, jadi bagi orang tua, jangan pernah bertengkar di depan anak, jangan mengajarkan anak untuk melakukan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), dan jangan jadikan anak sebagai alat investasi atau sebagai pemuas ego diri sendiri, menekan anak dengan standar tinggi tanpa melihat kapasitas anak dan kesehatan fisik serta mentalnya.

Secara keseluruhan, drama ini memiliki alur yang cukup kaya tapi saling berkesinambungan. Plotnya tidak membosankan dan ceritanya sangat relate dengan yang terjadi saat ini. Tokoh utama juga diperankan dengan baik, emosinya dapat, komedinya juga diselipkan dengan baik. Cocok untuk tontonan saat santai. Drama ini memiliki pesan yang cukup mendalam bukan hanya untuk pelajar dan pengajar, tetapi bagi pemangku kebijakan untuk selalu mengevaluasi kinerja berdasarkan permasalahan yang terjadi di lapangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] Novel "LAUT BERCERITA" Karya Leila S. Chudori

Novel karya Leila S. Chudori ini adalah sebuah karya fiksi yang menceritakan perjuangan aktivis kampus yang berjuang melawan kekejaman orde lama. Pembuatan novel ini juga dibuat berdasarkan riset dari hasil wawancara dengan narasumber-narsumber yang mengalami secara langsung kekejaman pada masa itu dan para ahli serta penduduk Sebuah novel yang menyuguhkan berbagai macam pengalaman, perasaan, pengetahuan dan juga kepahitan yang dirasakan oleh orang-orang diluar sana atau mungkin disekitar kita yang tak terungkap atau sengaja tak diungkapkan. Lelaki bernama Biru Laut Wibisono yang akrab dipanggil Laut oleh keluarga maupun kawan-kawannya adalah seorang yang pendiam namun dipikirannya terdapat ide-ide dan keyakinan yang kuat akan keinginannya untuk mengubah negara Indonesia yang dikuasai oleh rezim penguasa orde baru yang mengkekang kebebasan berpendapat warga negaranya. Pembukaan cerita ini ialah sebuah ending yang menggambarkan bagaimana seorang Laut bertemu dengan laut secara harfiah. ...

[REVIEW] Novel "1984" Karya George Orwell

  Baiklah, kali ini buku yang saya review agak berbeda dari biasanya, buku kali ini adalah buku terjemahan dari penulis luar negeri, George Orwell yang lahir di India pada tahun 1903. Buku yang saya baca diterjemahkan dengan sangat baik oleh Landung Simatupang dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Dengan tebal buku 397 halaman, saya kira buku ini adalah salah satu buku yang membuat saya menghela napas karena isi bukunya sangat menguras waktu dan pikiran ketika membacanya. Buku ini menceritakan sebuah kisah di masa depan, masa lalu, dan masa kini. George Orwell menuliskannya pada tahun 1949 dan isinya sangat relevan dengan sejarah yang pernah terjadi (dalam sejarah yang saya tahu karena barang kali sejarah yang saya ketahui bukanlah sejarah yang sebenarnya terjadi), relevan dengan masa kini, dan jika indikasi yang diterangkan dalam buku ini terus muncul maka bukan tidak mungkin di masa depan, realitas dalam buku ini benar-benar akan terjadi.  Ketika saya membaca buku ini di bab...

Korupsi dan Budaya Memberi Suku Sunda

Dalam budaya sunda, ketika seseorang akan berterima kasih, maka ia akan memberikan sesuatu. Entah dalam bentuk uang maupun hal lainnya. Akan tetapi dalam pasal undang-undang yang mengatur tentang korupsi disebut bahwa pemberian sesuatu kepada seseorang dengan maksud tertentu maka itu dikategorikan ke dalam suap atau gratifikasi yang termasuk dalam bentuk-bentuk korupsi. Hal ini yang terkadang membuat para guru atau dosen dibuat serba salah ketika ada muridnya yang telah lulus sekolah atau kuliah yang memberikan sesuatu kepada mereka dengan maksud berterima kasih. Hasinya, ada yang menerimanya karena tidak enak, ada yang menerimanya karena memandang hal itu sebagai budaya adat orang sunda, dan ada juga yang menolak karena merasa hal itu melanggar aturan. Ketiga tindakan itu jika dilihat dari sisi aturan dan budaya secara bersamaan maka tidak ada yang salah dan benar secara mutlak. Yang menjadikan hal itu salah adalah ketika oknum yang menerima ‘rasa terima kasih’ itu dengan mengiming-im...